Connect with us

Ragam

Promo Superindo Promo Weekday 6-9 September 2021, Mantap Diskonnya!

Avatar

Published

on

Promo Superindo Promo Weekday 6-9 September 2021, Mantap Diskonnya!

Serbapromosi.co – Jangan lewatkan promo Superindo terbaru minggu ini. Nikmati penawaran menarik di Superindo selama periode promosi weekday Superindo berlangsung, yakni tanggal 6-9 September 2021. Serbu promo superindo promo Super Hemat.

Kini saatnya belanja super hemat dalam menyambut momen-momen spesial di bulan ini. Pun untuk belanja kebutuhan lainnya, dimana bakal asik nih, apalagi ada promo Superindo.

Superindo menyajikan promo terbaru kali ini, dalam Promo Superindo Promo Weekday 6-9 September 2021. Banyak promo menggiurkan disuguhkan di sini, baik untuk kebutuhan kamu pribadi atau pun jika ingin dijual kembali (kulakan).

Jadi kini saatnya belanja HEMAT di Superindo! Yuk belanja dengan promo spesial Superindo weekday, promo hemat untuk mendapatkan semua kebutuhan kamu dan keluarga dengan harga hemat.

Baca juga: Promo BURGER KING Menu Bokek Harga Mulai 5rb Hingga 30 September 2021

Jangan sampai terlewatkan program Promo Superindo Promo Weekday 6-9 September 2021. Pasti spesial banget promo dan diskonnya, yang banyak memberikan promo diskon untuk produk-produk kebutuhan pokok dan lainnya yang sesuai kebutuhan kamu dan keluarga.

Promo Superindo Promo Weekday 6-9 September 2021, Mantap Diskonnya!

Dapatkan harga promo lebih HEMAT untuk pembelian produk-produk kebutuhan keluarga. Seperti produk minyak goreng dan lainnya.

Buat kamu dan keluarga yang ingin berbelanja di Superindo, tetap patuhi protokol kesehatan. Pastikan jaga jarak yang baik dan aman saat berbelanja maupun antri di kasir. Periode promo weekday Superindo kali ini yakni 6-9 September 2021.

Selamat berbelanja di Superindo. Serbu diskon superindo weekday terbaru ini! Belanja hemat mulailah sekarang di Superindo.

Informasi Promosi, Teknologi & Lifestyle || Memberikan informasi promosi, berita terbaru seputar teknologi dan gadget, serta gaya hidup (lifestyle)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ragam

RS Pondok Indah Group Hadirkan Solusi Digital Komprehensif untuk Keamanan dan Keselamatan Pasien

Tiga rumah sakit di bawah naungan RS Pondok Indah Group sukses menerapkan digitalisasi layanan dan menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang meraih validasi HIMSS EMRAM Tingkat 6 terkait integrasi sistem informasi rumah sakit dan keamanan data pasien

Avatar

Published

on

Serbapromosi.co – RS Pondok Indah Group terus bertransformasi secara digital dengan berbagai upaya optimisasi, efisiensi, dan integrasi yang berkesinambungan, sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan layanan kesehatan terbaik dengan mengutamakan mutu, keselamatan, dan kenyamanan bagi pasien.

Penerapan teknologi dan sistem informasi digital di tiga rumah sakit di bawah naungan RS Pondok Indah, yakni RS Pondok Indah – Pondok Indah, RS Pondok Indah – Puri Indah, dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong digitalisasi dalam industri kesehatan menuju Strategi Transformasi Kesehatan Digital 2024.

Untuk menyempurnakan sistem dan teknologi di seluruh unit layanan, RS Pondok Indah Group melakukan kolaborasi antara seluruh jajaran IT serta tim operasional yang menjalankan di lapangan, manajemen, hingga tenaga medis. Melalui transformasi digital yang komprehensif tersebut, ketiga rumah sakit di bawah naungan RS Pondok Indah Group menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang berhasil meraih validasi Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) Electronic Medical Record Adoption Model (EMRAM) Tingkat 6.

EMRAM adalah sistem yang mengukur kematangan digital (digital maturity) rumah sakit di seluruh dunia dengan Tingkat 0 sebagai tahap terendah dan Tingkat 7 sebagai tahap tertinggi. Pencapaian EMRAM Tingkat 6 mencerminkan bahwa RS Pondok Indah Group sudah menerapkan pencatatan data pasien yang paperless dan memanfaatkan sistem informasi teknologi pintar untuk meningkatkan kualitas, keamanan, dan efisiensi perawatan pasien.

Chief Executive Officer (CEO) RS Pondok Indah Group, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS mengatakan, “Validasi HIMSS EMRAM Tingkat 6 merupakan bentuk pencapaian akan komitmen kami dalam meningkatkan kepuasan pasien melalui penyempurnaan kualitas layanan secara berkesinambungan. Dalam proses transformasi digital, RS Pondok Indah Group telah mengintegrasikan layanan penunjang seperti laboratorium, farmasi, dan radiologi dengan rekam medis pasien, mengintegrasikan berbagai macam software dan ratusan alat medis, dan mengimplementasikan IT security untuk memastikan 95-100 persen dokumentasi medis dilakukan secara digital dan terstruktur, serta didukung oleh clinical decision support yang telah tersistemasi.”

Dukungan data berbasis bukti di setiap tahapan layanan memungkinkan RS Pondok Indah Group untuk mengoptimalkan ekosistem kerja digital. Penyediaan akses data dan informasi penting pada saat diperlukan akan membantu dokter membuat keputusan terkait rencana perawatan pasien berdasarkan riwayat medisnya, meminimalisir risiko kesalahan dalam perawatan pasien, serta menjaga kerahasiaan dan keamanan data pasien.

Nina Windu Kirana selaku Chief of Financial and Technology Officer RS Pondok Indah Group, mengungkapkan, “Adopsi dan inovasi teknologi juga kami terapkan dalam penggunaan rekam medis elektronik (RME), yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas layanan dengan memberi kemudahan bagi dokter serta tenaga medis dalam upaya mengurangi kesalahan perawatan, input berganda (multiple entry), menyederhanakan alur pemeriksaan, serta memanfaatkan penggunaan data agar perawatan pasien lebih optimal.”

Salah satu penerapan digitalisasi yang telah dilakukan oleh RS Pondok Indah Group yang juga berperan penting dalam pencapaian EMRAM Tingkat 6 adalah penerapan closed loop administration, yaitu validasi secara digital dalam proses pemberian obat, darah, dan ASI perah (ASIP) bagi pasien rawat inap dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dengan pindai kode QR. Dengan teknologi tersebut, aspek 6 Tepat Pemberian Obat yang meliputi Tepat Pasien, Tepat Obat, Tepat Dosis, Tepat Waktu, Tepat Cara, dan Tepat Dokumentasi dapat dilakukan dengan lebih akurat.

Selain itu, dengan clinical decision support, sistem akan secara aktif memberikan notifikasi/alert bagi pasien dengan kondisi tertentu, misalnya pada pasien dengan alergi obat, risiko kontraindikasi antarobat, atau kondisi kehamilan saat dokter meresepkan obat-obatan tertentu. Notifikasi ini akan bermanfaat bagi tenaga medis dalam mengambil keputusan medis lanjutan. Teknologi ini telah diterapkan di klinik rawat jalan, rawat inap, Emergency, serta ICU.

Upaya optimisasi juga dilakukan di area berikut:
– IT Security: selain membuat dan menerapkan prevention system terhadap data pusat, tim IT Security di RS Pondok Indah Group juga membuat kebijakan mobile device management yang ketat sebagai pencegahan penyalahgunaan data.
– IT Infrastructure: RS Pondok Indah group telah dilengkapi dengan sistem khusus yang tidak bergantung pada jaringan dan listrik sehingga perawatan pasien dapat terus berjalan, tiap unit layanan dapat tetap beroperasi, serta dapat terus mengakses data pasien, meskipun terjadi gangguan pada listrik atau jaringan.

Andrew Pearce, Wakil Presiden Analitik & Pemimpin Advisor Global Asia Pasifik HIMSS menjelaskan, “Dengan validasi ini, RS Pondok Indah Group telah menunjukkan komitmen berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan secara menyeluruh, melalui penggunaan dan penerapan RME secara efektif. Di RS Pondok Indah Group, proses closed loop administration sudah diterapkan dan dilaksanakan dengan baik, khususnya untuk pengelolaan produk darah, ASIP, dan obat-obatan. Capaian pemindaian kode QR pasien juga sudah sangat tinggi dan sudah setara dengan rumah sakit internasional.”

Hingga saat ini, hanya 3 rumah sakit di bawah naungan RS Pondok Indah Group yang berhasil meraih validasi HIMSS EMRAM di Indonesia. Di Asia Tenggara, secara keseluruhan ada 7 rumah sakit yang saat ini aktif tervalidasi HIMSS EMRAM Tingkat 6 dan Tingkat 7. Selain RS Pondok Indah Group, dua rumah sakit lain berlokasi di Singapura, dan dua lainnya di Thailand.

“Validasi HIMSS EMRAM Tahap 6 ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus melakukan transformasi digital yang berkesinambungan guna meningkatkan mutu, keamanan, keselamatan, dan kepuasan pasien kami. Ke depannya kami berharap dapat terus memberikan layanan kesehatan terdepan serta tetap menjadi pilihan masyarakat Indonesia,” tutup dr. Yanwar.

Continue Reading

Ragam

Bina Swadaya dan UGM Luncurkan Peta Jalan dan Strategi Aksi Untuk Bangun Resiliensi Masyarakat Adat Pasca Pandemi

Peta Jalan dan Strategi Aksi ini merupakan bentuk komitmen Yayasan Bina Swadaya dan UGM untuk terus membantu masyarakat adat untuk terus berdaya dan mandiri di tengah pandemi Covid-19

Avatar

Published

on

Serbapromosi.co – Yayasan Bina Swadaya bersama dengan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gadjah Mada (PSPK UGM) meluncurkan “Peta Jalan dan Strategi Aksi Pemulihan Dampak Pandemi Covid-19 yang Berkeadilan dan Berkelanjutan Pada Kelompok Masyarakat Adat” sebagai acuan aksi pemulihan dampak pandemi pada masyarakat adat dalam 10 tahun ke depan.

Hal ini didasari fakta bahwa sebanyak 70 juta penduduk Indonesia merupakan bagian dari komunitas adat. Mereka memiliki kontribusi nilai ekonomi yang signifikan, dengan angka yang mencapai 159,93 miliar per tahun. Meski demikian, hingga saat ini, belum ada pemetaan yang komprehensif terkait dampak pandemi terhadap kelestarian dan kesejahteraan komunitas adat. Padahal, menurut United Nations Development Program (UNDP), masyarakat adat tiga kali lipat lebih berisiko terjerumus dalam kondisi kemiskinan di tengah guncangan pandemi Covid-19 .

“Peta Jalan dan Strategi Aksi ini merupakan bentuk komitmen Yayasan Bina Swadaya untuk terus membantu masyarakat adat untuk terus berdaya dan mandiri di tengah pandemi Covid-19,” ujar Bayu Krisnamurthi, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Swadaya.

Inisiatif Bina Swadaya ini disambut baik oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid.

“Pemulihan ekonomi pasca pandemi memerlukan strategi yang berkelanjutan dan inklusif. Kami di Direktorat Jenderal Kebudayaan, menyambut baik kerja sama untuk mengangkat kembali kekayaan pengetahuan lokal tentang lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Bina Yayasan Bina Swadaya dan PSPK UGM melalui pembuatan Peta Jalan dan Strategi Aksi ini. Inisiatif seperti ini dapat mendorong tercapainya target pembangunan yang berkelanjutan (SDGs),” ujar Dr. Hilmar.

Poppy Ismalina, Ketua Tim Penyusunan Peta Jalan dan Strategi Aksi bagi Kelompok-Kelompok Terdampak menjelaskan bahwa masyarakat adat merupakan salah satu dari enam kelompok rentan yang perlu diperhatikan dalam proses pemulihan pasca pandemi.

“Kami mengidentifikasi pemangku kepentingan terkait sebelum membuat peta. Kami dasari peta jalan itu dengan lima prinsip, yakni prinsip kesetaraan, partisipasi, dan yang penting adalah bagaimana peta jalan dan strategi akses ini membuka akses informasi dan membangun kepercayaan publik terhadap apa yang kita akan lakukan untuk pemulihan pasca pandemi.”

Temuan lapangan dari tim penyusun menyimpulkan bahwa meski memiliki kerentanan, masyarakat adat memiliki daya adaptasi dan resiliensi yang tinggi.

“Memang mereka kelihatannya tidak membutuhkan bantuan dari pihak lain, tapi kemudian kami identifikasi tentu saja perlu ada dukungan yang utuh untuk kehidupan yang jauh lebih baik bagi semua kelompok rentan, termasuk masyarakat adat,” jelas Poppy.

Studi untuk memahami kerentanan dan resiliensi masyarakat adat melibatkan setidaknya empat kelompok masyarakat adat, yakni Senama Nenek, Urug, Ciptagelar dan Samin (Sedulur Sikep).

“Banyak hal yang berkontribusi terhadap kerentanan masyarakat adat, termasuk meluasnya ekspansi pasar, rusaknya ekosistem karena land grabbing, dan marjinalisasi budaya,” jelas Dr. Bambang Hudayana, M.A. Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, dan Ketua Tim Peneliti Peta Jalan untuk Kelompok Masyarakat Adat.

Meski demikian, beliau menambahkan bahwa masyarakat adat mampu membangun resiliensi, terlebih jika mendapatkan dukungan untuk mengembangkan pengetahuan budaya sebagai bagian dari kekuatan mereka.

“Budaya menjadi kekuatan masyarakat adat dalam beradaptasi dengan lingkungan, namun dalam sebagian besar kasus di lapangan, budaya ini semakin lama semakin terpinggirkan, padahal ini merupakan aset menuju kemandirian. Kekuatan yang penting menuju kemandirian berawal dari dalam masyarakat itu sendiri, termasuk kearifan lokal, budaya, sumber daya alam, dan modal sosial yang bisa semakin kuat melalui inklusi sosial dan emansipasi,” jelas Dr. Bambang.

Dalam lima tahun pertama, program memfokuskan pada pemulihan ekonomi dengan cara meningkatkan dukungan kebijakan pemerintah untuk memproteksi hak-hak masyarakat adat atas penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam di lingkungannya. Sementara dalam lima tahun kedua, program memfokuskan pada peningkatan ketahanan ekonomi seiring dengan meluasnya globalisasi dan ekonomi disrupsi sehingga ekonomi masyarakat adat bisa bertahan, dan bahkan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan ketangguhannya.

Senada dengan Dr. Bambang, Yuli Prasetyo Nugroho, Kepala Sub Direktorat Pengakuan Hutan Adat dan Perlindungan Kearifan Lokal, Direktorat Pengaduan Konflik, Tenurial dan Hutan Adat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyebutkan pentingnya peran lembaga adat dalam implementasi Peta Jalan menuju pemulihan pasca pandemi.

“Sejauh ini kami mengidentifikasi ada 83.000 desa adat, 36.000 desa di antaranya memiliki lembaga adat yang bisa dilibatkan dalam proses pembangunan resiliensi yang disebutkan oleh Pak Bambang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prasetyo juga menekankan perlunya perlindungan terhadap kearifan lokal. “Banyak terjadi pembajakan terhadap kearifan lokal yang tidak dilindungi. Contohnya, ada masyarakat adat yang menjadi satu-satunya pengelola atau produsen hasil alam tertentu, tetapi harga yang tidak menentu dan tidak dilindungi kemudian menjadikan mereka rentan. Ini menjadi bukti pentingnya perlindungan dalam bentuk hukum dan kebijakan,” ujar Prasetyo menambahkan.

Annas Radin Syarif, Deputi III Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Urusan Ekonomi yang turut hadir dalam acara menanggapi peta jalan gagasan PSPK UGM – Yayasan Bina Swadaya sebagai masukan berharga dalam kerja AMAN, komunitas akar rumput, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kami berterima kasih atas dibuatnya Peta Jalan ini karena dapat menjadi masukan dalam kerja kami untuk meningkatkan resiliensi masyarakat Adat, terutama langkah-langkah yang mendukung keamanan tenurial.”

Annas juga memberi masukan agar implementasi Peta Jalan dan Strategi Aksi disesuaikan dengan kondisi masyarakat adat di lapangan.

“Semoga forum diseminasi peta jalan ini bisa menjadi awal yang baik bagi para ahli serta pemerhati masyarakat adat sehingga dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk mewujudkan peta jalan yang lebih baik dan sesuai dengan kondisi di lapangan,” tambah Annas.

Continue Reading
Advertisement

Kulineran Hemat

Advertisement

Fashion & Beauty

OTOTREND