Connect with us

Ragam

tiket.com Kembali Menangkan HRAsia Best Company to Work For in Asia

Avatar

Published

on

tiket.com Kembali Menangkan HRAsia Best Company to Work For in Asia

Serbapromosi.co – Pada malam penganugerahan HRAsia Awards 2021 (07/09), tiket.com, OTA platform pertama di Indonesia, berprestasi dengan membawa pulang dua penghargaan, yaitu HRAsia Best Company to Work For in Asia 2021 (untuk 2 tahun berturut-turut) dan HRAsia WeCare Awards 2021 (untuk pertama kalinya).

Kedua penghargaan tersebut menjadi testamen keberhasilan implementasi budaya atau core value HAPPY (Hunger, Agile, People-oriented, Performance driven, dan Yourself) yang senantiasa diusung oleh tiket.com.

HRAsia Best Companies to Work for in Asia Awards adalah program penghargaan atau awarding untuk jajaran organisasi yang memperoleh predikat sebagai perusahaan terbaik untuk bekerja. Penghargaan ini dirancang untuk memberikan pengakuan terhadap perusahaan di seluruh Asia dengan praktek SDM terbaik dan yang menunjukkan tingkat keterlibatan karyawan yang tinggi dan budaya tempat kerja yang sangat baik.

Sedangkan, WeCare Award dari komite HR Asia juga diberikan kepada tiket.com untuk pertama kalinya. WeCare Award hanya diberikan kepada 3 perusahaan teratas yang menerapkan program keterlibatan dan kesejahteraan karyawan terbaik di Asia. Perusahaan yang bekerja keras untuk melayani kebutuhan karyawan selama pandemi berlangsung.

Menerima kedua penghargaan secara virtual, Dudi Arisandi, Chief People Officer, tiket.com menyampaikan, “Kami bersyukur atas penghargaan HR Asia Award untuk kategori Best Companies to Work fo in Asia kedua kalinya dan WeCare Awards 2021 untuk yang pertama. Kesejahteraan karyawan, mulai dari fisik, kesehatan mental, finansial, dan sosial terus menjadi fokus utama kami.

Terlepas dari dampak pandemi yang begitu besar, team people meluncurkan banyak inisiatif agar tetap saling terhubung dan mendukung satu sama lain, seperti menggelar BCP Committee, learning & people engagement ke online. Terima kasih kepada keluarga besar tiket.com untuk tetap kuat dan percaya kepada kami. Bersama-sama kita semua semakin mantap dalam mengarungi tantangan di kemudian hari”

Team people di tiket.com terus menginisiasi program-program untuk membangun Employe Experience yang menyangkut setiap aspek pengembangan sumber daya manusia, mulai dari recruitment proses sampai karyawan menjadi alumni dari tiket.com masih terus disempurnakan oleh tiket.com sehingga setiap karyawan akan mendapatkan pengalaman terbaik saat berkarir di tiket.com.

Tidak hanya itu saja, tiket.com memberikan dukungan sepenuhnya bagi karyawan untuk mengembangkan bakat demi personal growth melalui rangkaian program virtual dari Udemy dan Coursera. Karyawan tiket.com dapat mengambil jenis course sesuai keinginan hati dan personal goal masing-masing.

“Sebagai perusahaan dinamis di industri pariwisata, tiket.com selalu berupaya untuk menjadi perusahaan yang people-centric. Karena kami memandang t-fam sebagai prioritas utama agar dapat bersama-sama maju menyejahterakan Indonesia melalui industri pariwisata. Prestasi ini akan menjadi pemacu semangat tiket.com untuk terus berkarya dalam mensejahterakan dan membahagiakan karyawan,” tutup Dudi.

SHARE
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ragam

Yayasan Erajaya Peduli Bangsa Distribusikan Hewan Qurban

Yayasan Erajaya Peduli Bangsa Distribusikan Hewan Qurban berupa 2 Ekor Sapi dan 7 Ekor Kambing, dalam memperingati Idul Adha 1443H

Avatar

Published

on

Serbapromosi.co – Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1443 H, Yayasan Erajaya Peduli Bangsa diketahui telah mendistribusikan Hewan Qurban berupa 2 ekor sapi dan 7 ekor kambing untuk masyarakat di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Filantrophy Erajaya Group yang dirutin dilakukan setiap tahunnya.

qurban Yayasan Erajaya Peduli Bangsa, Idul Adha 1443H

Sebagai informasi, Yayasan Erajaya Peduli Bangsa merupakan lembaga non-profit yang didirikan oleh PT Erajaya Swasembada Tbk pada tahun 2021. Ini adalah bentuk tanggung jawab perusahaan sebagai wadah untuk mengelola kedermawaanan dan aktivitas sosial perusahaan secara terpadu, terintegrasi, fokus, dan berdampak luas serta berkesinambungan.

Yayasan Erajaya Peduli Bangsa juga berkontribusi aktif dan positif dalam mendukung kesejahteraan sosial, kemanusiaan dan keagamaan secara berkelanjutan

SHARE
Continue Reading

Ragam

Bina Swadaya dan UGM Luncurkan Peta Jalan dan Strategi Aksi Untuk Bangun Resiliensi Masyarakat Adat Pasca Pandemi

Peta Jalan dan Strategi Aksi ini merupakan bentuk komitmen Yayasan Bina Swadaya dan UGM untuk terus membantu masyarakat adat untuk terus berdaya dan mandiri di tengah pandemi Covid-19

Avatar

Published

on

Serbapromosi.co – Yayasan Bina Swadaya bersama dengan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gadjah Mada (PSPK UGM) meluncurkan “Peta Jalan dan Strategi Aksi Pemulihan Dampak Pandemi Covid-19 yang Berkeadilan dan Berkelanjutan Pada Kelompok Masyarakat Adat” sebagai acuan aksi pemulihan dampak pandemi pada masyarakat adat dalam 10 tahun ke depan.

Hal ini didasari fakta bahwa sebanyak 70 juta penduduk Indonesia merupakan bagian dari komunitas adat. Mereka memiliki kontribusi nilai ekonomi yang signifikan, dengan angka yang mencapai 159,93 miliar per tahun. Meski demikian, hingga saat ini, belum ada pemetaan yang komprehensif terkait dampak pandemi terhadap kelestarian dan kesejahteraan komunitas adat. Padahal, menurut United Nations Development Program (UNDP), masyarakat adat tiga kali lipat lebih berisiko terjerumus dalam kondisi kemiskinan di tengah guncangan pandemi Covid-19 .

“Peta Jalan dan Strategi Aksi ini merupakan bentuk komitmen Yayasan Bina Swadaya untuk terus membantu masyarakat adat untuk terus berdaya dan mandiri di tengah pandemi Covid-19,” ujar Bayu Krisnamurthi, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Swadaya.

Inisiatif Bina Swadaya ini disambut baik oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid.

“Pemulihan ekonomi pasca pandemi memerlukan strategi yang berkelanjutan dan inklusif. Kami di Direktorat Jenderal Kebudayaan, menyambut baik kerja sama untuk mengangkat kembali kekayaan pengetahuan lokal tentang lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Bina Yayasan Bina Swadaya dan PSPK UGM melalui pembuatan Peta Jalan dan Strategi Aksi ini. Inisiatif seperti ini dapat mendorong tercapainya target pembangunan yang berkelanjutan (SDGs),” ujar Dr. Hilmar.

Poppy Ismalina, Ketua Tim Penyusunan Peta Jalan dan Strategi Aksi bagi Kelompok-Kelompok Terdampak menjelaskan bahwa masyarakat adat merupakan salah satu dari enam kelompok rentan yang perlu diperhatikan dalam proses pemulihan pasca pandemi.

“Kami mengidentifikasi pemangku kepentingan terkait sebelum membuat peta. Kami dasari peta jalan itu dengan lima prinsip, yakni prinsip kesetaraan, partisipasi, dan yang penting adalah bagaimana peta jalan dan strategi akses ini membuka akses informasi dan membangun kepercayaan publik terhadap apa yang kita akan lakukan untuk pemulihan pasca pandemi.”

Temuan lapangan dari tim penyusun menyimpulkan bahwa meski memiliki kerentanan, masyarakat adat memiliki daya adaptasi dan resiliensi yang tinggi.

“Memang mereka kelihatannya tidak membutuhkan bantuan dari pihak lain, tapi kemudian kami identifikasi tentu saja perlu ada dukungan yang utuh untuk kehidupan yang jauh lebih baik bagi semua kelompok rentan, termasuk masyarakat adat,” jelas Poppy.

Studi untuk memahami kerentanan dan resiliensi masyarakat adat melibatkan setidaknya empat kelompok masyarakat adat, yakni Senama Nenek, Urug, Ciptagelar dan Samin (Sedulur Sikep).

“Banyak hal yang berkontribusi terhadap kerentanan masyarakat adat, termasuk meluasnya ekspansi pasar, rusaknya ekosistem karena land grabbing, dan marjinalisasi budaya,” jelas Dr. Bambang Hudayana, M.A. Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, dan Ketua Tim Peneliti Peta Jalan untuk Kelompok Masyarakat Adat.

Meski demikian, beliau menambahkan bahwa masyarakat adat mampu membangun resiliensi, terlebih jika mendapatkan dukungan untuk mengembangkan pengetahuan budaya sebagai bagian dari kekuatan mereka.

“Budaya menjadi kekuatan masyarakat adat dalam beradaptasi dengan lingkungan, namun dalam sebagian besar kasus di lapangan, budaya ini semakin lama semakin terpinggirkan, padahal ini merupakan aset menuju kemandirian. Kekuatan yang penting menuju kemandirian berawal dari dalam masyarakat itu sendiri, termasuk kearifan lokal, budaya, sumber daya alam, dan modal sosial yang bisa semakin kuat melalui inklusi sosial dan emansipasi,” jelas Dr. Bambang.

Dalam lima tahun pertama, program memfokuskan pada pemulihan ekonomi dengan cara meningkatkan dukungan kebijakan pemerintah untuk memproteksi hak-hak masyarakat adat atas penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam di lingkungannya. Sementara dalam lima tahun kedua, program memfokuskan pada peningkatan ketahanan ekonomi seiring dengan meluasnya globalisasi dan ekonomi disrupsi sehingga ekonomi masyarakat adat bisa bertahan, dan bahkan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan ketangguhannya.

Senada dengan Dr. Bambang, Yuli Prasetyo Nugroho, Kepala Sub Direktorat Pengakuan Hutan Adat dan Perlindungan Kearifan Lokal, Direktorat Pengaduan Konflik, Tenurial dan Hutan Adat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyebutkan pentingnya peran lembaga adat dalam implementasi Peta Jalan menuju pemulihan pasca pandemi.

“Sejauh ini kami mengidentifikasi ada 83.000 desa adat, 36.000 desa di antaranya memiliki lembaga adat yang bisa dilibatkan dalam proses pembangunan resiliensi yang disebutkan oleh Pak Bambang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prasetyo juga menekankan perlunya perlindungan terhadap kearifan lokal. “Banyak terjadi pembajakan terhadap kearifan lokal yang tidak dilindungi. Contohnya, ada masyarakat adat yang menjadi satu-satunya pengelola atau produsen hasil alam tertentu, tetapi harga yang tidak menentu dan tidak dilindungi kemudian menjadikan mereka rentan. Ini menjadi bukti pentingnya perlindungan dalam bentuk hukum dan kebijakan,” ujar Prasetyo menambahkan.

Annas Radin Syarif, Deputi III Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Urusan Ekonomi yang turut hadir dalam acara menanggapi peta jalan gagasan PSPK UGM – Yayasan Bina Swadaya sebagai masukan berharga dalam kerja AMAN, komunitas akar rumput, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kami berterima kasih atas dibuatnya Peta Jalan ini karena dapat menjadi masukan dalam kerja kami untuk meningkatkan resiliensi masyarakat Adat, terutama langkah-langkah yang mendukung keamanan tenurial.”

Annas juga memberi masukan agar implementasi Peta Jalan dan Strategi Aksi disesuaikan dengan kondisi masyarakat adat di lapangan.

“Semoga forum diseminasi peta jalan ini bisa menjadi awal yang baik bagi para ahli serta pemerhati masyarakat adat sehingga dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk mewujudkan peta jalan yang lebih baik dan sesuai dengan kondisi di lapangan,” tambah Annas.

SHARE
Continue Reading

ngeHITZ