Connect with us

Ragam

Alibaba Business School Luncurkan Netpreneur Training Virtual Bagi UMKM dan Startup Indonesia

Avatar

Published

on

Zhang Yu, Alibaba Group Partner and Vice President

Alibaba Business School, unit edukasi dari Alibaba Group, meluncurkan program pelatihan Alibaba Netpreneur virtual yang pertama di Indonesia, bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia).

Program Netpreneur Training dirancang untuk membekali para wirausahawan dan pelaku bisnis dengan pengetahuan serta bimbingan praktis yang dapat mereka lakukan untuk mempercepat upaya transformasi digital, dengan berkaca dari perjalanan ekonomi digital Alibaba.

Pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif Alibaba yang lebih luas untuk mempromosikan perkembangan inklusif dan memberdayakan wirausahawan dan pelaku bisnis berbagai skala. Pendaftaraan untuk program ini telah dibuka dan akan berakhir 16 Juni 2021.

“Akselerasi ekonomi digital sebagai dampak dari pandemi global telah membuka berbagai kesempatan yang sebelumnya tidak disadari. Kami sangat senang dapat mendemonstrasikan kepada para UKM dan wirausahawan, bagaimana mereka dapat memanfaatkan pembelajaran dan pengetahuan dari ekosistem digital kami, untuk memahami dan memanfaatkan peluang yang ada, serta mentransformasi bisnis mereka untuk mencapai kesuksesan jangka panjang dalam ekonomi digital,” jelas Zhang Yu, Alibaba Group Partner and Vice President.

Dua gelombang pertama Program Alibaba Netpreneur Training Indonesia dilaksanakan pada tahun 2019 dan 2020 selama 10 hari di Hangzhou, untuk mendapatkan pengetahuan mengenai tren ekonomi digital dan belajar secara langsung dari pemimpin bisnis Alibaba. Hingga saat ini, sebanyak 96 wirausahawan dan pelaku bisnis di Indonesia telah menyelesaikan program pelatihan ini.

Dengan mempertimbangkan pandemi Covid-19, gelombang ketiga program ini telah dirancang ulang dengan menggabungkan modul pelatihan online dan offline untuk memenuhi syarat protokol kesehatan. Program online akan dilaksanakan melalui serangkaian seminar virtual pada 14 Juli hingga 1 September.

Seminar ini akan mencakup pengalaman pertama dari inovasi e-commerce dan digital, akses ke pemimpin bisnis di Alibaba dan Tiongkok, serta kesempatan untuk membangun relasi dengan para wirausahawan dari wilayah masing-masing, melalui berbagai latihan, kuliah interaktif, dan diskusi yang dinamis.

Pendaftaran Alibaba Netpreneur Training telah dibuka

Selama enam minggu, sesi seminar ini akan mencakup transformasi digital Tiongkok, yang termasuk faktor-faktor utama yang mendukung pertumbuhan Alibaba dari start-up hingga menjadi ekosistem digital, serta saran-saran praktis untuk membantu bisnis mentransformasi operasinya secara digital dan dengan percaya diri meraih peluang bisnis secara global. Alibaba Business School juga akan mengadakan webinar tambahan yang bersifat tidak wajib selama program, webinar ini akan membahas soal tren dan insight industri.

“Kita semua telah menyaksikan bagaimana Covid-19 telah menjadi pemicu utama transformasi digital bagi berbagai korporasi di dunia. Kemajuan teknologi menjadi kebutuhan mendasar bagi perusahaan untuk bertahan dan bertumbuh di era ini. Oleh sebab itu, penting bagi para pengusaha, terutama pelaku UKM, untuk membekali diri dengan pengetahuan terbaru dan terpenting mengenai transformasi digital. Selain itu, selaras dengan visi Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Indonesia 4.0, KADIN Indonesia percaya bahwa pelatihan ini akan memberikan nilai positif bagi para pelaku bisnis Indonesia. Maka, kami sangat menganjurkan semua anggota kami untuk berpartisipasi,” tambah Rosan P. Roeslani, Ketua Umum KADIN Indonesia.

Para peserta yang bergabung dalam sesi online program Alibaba Netpreneur Training akan mendapatkan:
– Pemahaman akan perkembangan ekonomi digital di Tiongkok
– Dasar-dasar peran new technology dan ekonomi digital dalam mendorong perkembangan nasional
– Pengetahuan utama akan evolusi ekosistem Alibaba yang meliputi pembelajaran dan praktik terbaik melalui berbagai sesi dari pemimpin senior Alibaba.
– Pegetahuan akan tren dan praktik mutakhir yang digunakan dalam ekonomi digital Tiongkok yang kian berkembang
– Pemahaman mendalam akan kerangka bisnis dan pola strategis, serta berbagai cara untuk menciptakan lingkungan yang menguatkan kapasitas peserta untuk mendorong inovasi dan mencapai hasil yang lebih baik.

Para peserta akan dinilai dan diuji setiap minggu, dan akan mendapatkan tugas akhir di penghujung pelatihan. Semua peserta akan diundang untuk bergabung dalam komunitas Alibaba Global Initiatives, dimana mereka akan dapat mengakses informasi dan aktivitas tambahan pasca-pelatihan seperti webinar dan bulletin.

Berdasarkan hasil dari partisipasi online dan penilaian tugas atau proyek, para peserta yang mendapatkan hasil baik dapat berpartisipasi dalam program imersif offline yang akan diadakan di Kantor Pusat Alibaba di Hangzhou saat pembatasan perjalanan sudah dihapus.

Program Alibaba Netpreneur Training sendiri adalah inisiatif terbaru dari Alibaba Business School untuk mendorong kesuksesan dalam ekonomi digital Indonesia, serta mengembangkan talenta perdagangan dan bisnis digital.

Upaya lain dari Alibaba Business School dan unit Alibaba Group lainnya untuk mempercepat proses transformasi digital Indonesia meliputi—namun tidak terbatas pada—Program eFounders Fellowship, yang dilaksanakan oleh Alibaba Business School bekerjasama dengan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), dan kursus terbuka serta pelatihan lainnya akan teknologi cloud dan digital yang ditawarkan oleh Alibaba Cloud Academy dan Alibaba Cloud Academic Empowerment Program (AAEP)

SHARE
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ragam

Yayasan Erajaya Peduli Bangsa Distribusikan Hewan Qurban

Yayasan Erajaya Peduli Bangsa Distribusikan Hewan Qurban berupa 2 Ekor Sapi dan 7 Ekor Kambing, dalam memperingati Idul Adha 1443H

Avatar

Published

on

Serbapromosi.co – Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1443 H, Yayasan Erajaya Peduli Bangsa diketahui telah mendistribusikan Hewan Qurban berupa 2 ekor sapi dan 7 ekor kambing untuk masyarakat di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Filantrophy Erajaya Group yang dirutin dilakukan setiap tahunnya.

qurban Yayasan Erajaya Peduli Bangsa, Idul Adha 1443H

Sebagai informasi, Yayasan Erajaya Peduli Bangsa merupakan lembaga non-profit yang didirikan oleh PT Erajaya Swasembada Tbk pada tahun 2021. Ini adalah bentuk tanggung jawab perusahaan sebagai wadah untuk mengelola kedermawaanan dan aktivitas sosial perusahaan secara terpadu, terintegrasi, fokus, dan berdampak luas serta berkesinambungan.

Yayasan Erajaya Peduli Bangsa juga berkontribusi aktif dan positif dalam mendukung kesejahteraan sosial, kemanusiaan dan keagamaan secara berkelanjutan

SHARE
Continue Reading

Ragam

Bina Swadaya dan UGM Luncurkan Peta Jalan dan Strategi Aksi Untuk Bangun Resiliensi Masyarakat Adat Pasca Pandemi

Peta Jalan dan Strategi Aksi ini merupakan bentuk komitmen Yayasan Bina Swadaya dan UGM untuk terus membantu masyarakat adat untuk terus berdaya dan mandiri di tengah pandemi Covid-19

Avatar

Published

on

Serbapromosi.co – Yayasan Bina Swadaya bersama dengan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gadjah Mada (PSPK UGM) meluncurkan “Peta Jalan dan Strategi Aksi Pemulihan Dampak Pandemi Covid-19 yang Berkeadilan dan Berkelanjutan Pada Kelompok Masyarakat Adat” sebagai acuan aksi pemulihan dampak pandemi pada masyarakat adat dalam 10 tahun ke depan.

Hal ini didasari fakta bahwa sebanyak 70 juta penduduk Indonesia merupakan bagian dari komunitas adat. Mereka memiliki kontribusi nilai ekonomi yang signifikan, dengan angka yang mencapai 159,93 miliar per tahun. Meski demikian, hingga saat ini, belum ada pemetaan yang komprehensif terkait dampak pandemi terhadap kelestarian dan kesejahteraan komunitas adat. Padahal, menurut United Nations Development Program (UNDP), masyarakat adat tiga kali lipat lebih berisiko terjerumus dalam kondisi kemiskinan di tengah guncangan pandemi Covid-19 .

“Peta Jalan dan Strategi Aksi ini merupakan bentuk komitmen Yayasan Bina Swadaya untuk terus membantu masyarakat adat untuk terus berdaya dan mandiri di tengah pandemi Covid-19,” ujar Bayu Krisnamurthi, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Swadaya.

Inisiatif Bina Swadaya ini disambut baik oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid.

“Pemulihan ekonomi pasca pandemi memerlukan strategi yang berkelanjutan dan inklusif. Kami di Direktorat Jenderal Kebudayaan, menyambut baik kerja sama untuk mengangkat kembali kekayaan pengetahuan lokal tentang lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Bina Yayasan Bina Swadaya dan PSPK UGM melalui pembuatan Peta Jalan dan Strategi Aksi ini. Inisiatif seperti ini dapat mendorong tercapainya target pembangunan yang berkelanjutan (SDGs),” ujar Dr. Hilmar.

Poppy Ismalina, Ketua Tim Penyusunan Peta Jalan dan Strategi Aksi bagi Kelompok-Kelompok Terdampak menjelaskan bahwa masyarakat adat merupakan salah satu dari enam kelompok rentan yang perlu diperhatikan dalam proses pemulihan pasca pandemi.

“Kami mengidentifikasi pemangku kepentingan terkait sebelum membuat peta. Kami dasari peta jalan itu dengan lima prinsip, yakni prinsip kesetaraan, partisipasi, dan yang penting adalah bagaimana peta jalan dan strategi akses ini membuka akses informasi dan membangun kepercayaan publik terhadap apa yang kita akan lakukan untuk pemulihan pasca pandemi.”

Temuan lapangan dari tim penyusun menyimpulkan bahwa meski memiliki kerentanan, masyarakat adat memiliki daya adaptasi dan resiliensi yang tinggi.

“Memang mereka kelihatannya tidak membutuhkan bantuan dari pihak lain, tapi kemudian kami identifikasi tentu saja perlu ada dukungan yang utuh untuk kehidupan yang jauh lebih baik bagi semua kelompok rentan, termasuk masyarakat adat,” jelas Poppy.

Studi untuk memahami kerentanan dan resiliensi masyarakat adat melibatkan setidaknya empat kelompok masyarakat adat, yakni Senama Nenek, Urug, Ciptagelar dan Samin (Sedulur Sikep).

“Banyak hal yang berkontribusi terhadap kerentanan masyarakat adat, termasuk meluasnya ekspansi pasar, rusaknya ekosistem karena land grabbing, dan marjinalisasi budaya,” jelas Dr. Bambang Hudayana, M.A. Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, dan Ketua Tim Peneliti Peta Jalan untuk Kelompok Masyarakat Adat.

Meski demikian, beliau menambahkan bahwa masyarakat adat mampu membangun resiliensi, terlebih jika mendapatkan dukungan untuk mengembangkan pengetahuan budaya sebagai bagian dari kekuatan mereka.

“Budaya menjadi kekuatan masyarakat adat dalam beradaptasi dengan lingkungan, namun dalam sebagian besar kasus di lapangan, budaya ini semakin lama semakin terpinggirkan, padahal ini merupakan aset menuju kemandirian. Kekuatan yang penting menuju kemandirian berawal dari dalam masyarakat itu sendiri, termasuk kearifan lokal, budaya, sumber daya alam, dan modal sosial yang bisa semakin kuat melalui inklusi sosial dan emansipasi,” jelas Dr. Bambang.

Dalam lima tahun pertama, program memfokuskan pada pemulihan ekonomi dengan cara meningkatkan dukungan kebijakan pemerintah untuk memproteksi hak-hak masyarakat adat atas penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam di lingkungannya. Sementara dalam lima tahun kedua, program memfokuskan pada peningkatan ketahanan ekonomi seiring dengan meluasnya globalisasi dan ekonomi disrupsi sehingga ekonomi masyarakat adat bisa bertahan, dan bahkan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan ketangguhannya.

Senada dengan Dr. Bambang, Yuli Prasetyo Nugroho, Kepala Sub Direktorat Pengakuan Hutan Adat dan Perlindungan Kearifan Lokal, Direktorat Pengaduan Konflik, Tenurial dan Hutan Adat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyebutkan pentingnya peran lembaga adat dalam implementasi Peta Jalan menuju pemulihan pasca pandemi.

“Sejauh ini kami mengidentifikasi ada 83.000 desa adat, 36.000 desa di antaranya memiliki lembaga adat yang bisa dilibatkan dalam proses pembangunan resiliensi yang disebutkan oleh Pak Bambang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prasetyo juga menekankan perlunya perlindungan terhadap kearifan lokal. “Banyak terjadi pembajakan terhadap kearifan lokal yang tidak dilindungi. Contohnya, ada masyarakat adat yang menjadi satu-satunya pengelola atau produsen hasil alam tertentu, tetapi harga yang tidak menentu dan tidak dilindungi kemudian menjadikan mereka rentan. Ini menjadi bukti pentingnya perlindungan dalam bentuk hukum dan kebijakan,” ujar Prasetyo menambahkan.

Annas Radin Syarif, Deputi III Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Urusan Ekonomi yang turut hadir dalam acara menanggapi peta jalan gagasan PSPK UGM – Yayasan Bina Swadaya sebagai masukan berharga dalam kerja AMAN, komunitas akar rumput, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kami berterima kasih atas dibuatnya Peta Jalan ini karena dapat menjadi masukan dalam kerja kami untuk meningkatkan resiliensi masyarakat Adat, terutama langkah-langkah yang mendukung keamanan tenurial.”

Annas juga memberi masukan agar implementasi Peta Jalan dan Strategi Aksi disesuaikan dengan kondisi masyarakat adat di lapangan.

“Semoga forum diseminasi peta jalan ini bisa menjadi awal yang baik bagi para ahli serta pemerhati masyarakat adat sehingga dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk mewujudkan peta jalan yang lebih baik dan sesuai dengan kondisi di lapangan,” tambah Annas.

SHARE
Continue Reading

ngeHITZ